Workshop Pendidikan STEM: Mengembangkan Pemahaman Mahasiswa dalam Pembelajaran STEM
Surabaya, 27 Februari 2024 – Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelenggarakan Workshop Pendidikan STEM di Aula Gedung C8 Lantai 2. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Wanty Widjaja, Associate Professor dari Deakin University, Australia, sebagai pemateri dan fasilitator utama.
Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa dalam mengintegrasikan konsep Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dalam pembelajaran dan pemecahan masalah. Kegiatan dirancang secara interaktif melalui pemberian studi kasus, diskusi kelompok, pencarian dan analisis data, serta presentasi hasil kerja peserta.
Berbeda dari kegiatan pembelajaran yang hanya melibatkan satu jenjang pendidikan, Workshop Pendidikan STEM ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai jenjang, yaitu Program Sarjana (S1), Program Magister (S2), dan Program Doktor (S3). Kehadiran mahasiswa dari berbagai jenjang tersebut menciptakan suasana pembelajaran yang lebih kaya karena peserta memiliki latar belakang pengalaman akademik dan perspektif yang beragam.
Peserta utama kegiatan ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Unesa yang sedang menempuh mata kuliah Pendidikan STEM, khususnya mahasiswa S1 angkatan 2021. Namun, kegiatan ini juga terbuka bagi mahasiswa lain yang memiliki minat terhadap pengembangan pendidikan STEM. Oleh karena itu, workshop turut diikuti oleh mahasiswa S1 dari beberapa angkatan, mahasiswa Program Magister (S2), serta mahasiswa Program Doktor (S3).
Keikutsertaan mahasiswa S1, S2, dan S3 menjadi salah satu bentuk pertukaran pengalaman akademik antarpeserta. Mahasiswa dari berbagai jenjang dapat berdiskusi dan bekerja sama dalam memahami permasalahan yang diberikan. Dalam proses tersebut, setiap peserta memiliki kesempatan untuk menyampaikan gagasan, berbagi pengalaman, serta melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang.
Sejak awal kegiatan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Workshop tidak hanya berisi penyampaian konsep mengenai Pendidikan STEM, tetapi memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengalami secara langsung proses pembelajaran berbasis masalah. Pendekatan ini mendorong peserta untuk menggunakan pengetahuan dari berbagai bidang dalam menganalisis suatu persoalan nyata. Pada sesi utama, Dr. Wanty Widjaja memberikan sebuah studi kasus yang menantang peserta untuk mendesain sistem kriteria evaluasi dengan menggunakan pendekatan matematika dan ilmiah. Studi kasus tersebut berkaitan dengan upaya menentukan area yang paling sesuai di Kota Surabaya bagi keluarga pendatang baru.
Dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, peserta perlu menentukan berbagai aspek yang dapat digunakan sebagai kriteria dalam melakukan evaluasi. Mereka kemudian mencari data yang relevan, mengidentifikasi informasi yang dapat digunakan, serta menggunakan ukuran statistik dan pertimbangan ilmiah untuk mendukung keputusan yang dibuat.
Seluruh peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas sekitar tujuh hingga delapan orang. Pembagian kelompok memungkinkan mahasiswa dari berbagai latar belakang dan jenjang pendidikan untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan studi kasus. Setiap kelompok mendiskusikan strategi pencarian data, menentukan kriteria yang dianggap penting, serta melakukan berbagai perhitungan dan analisis.
Dalam proses pengerjaan, peserta menemukan bahwa mencari dan menentukan data yang sesuai ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mereka harus melakukan berbagai pencarian untuk memperoleh informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Selain itu, peserta juga harus mempertimbangkan bagaimana data tersebut dapat diolah dan digunakan sebagai dasar dalam menentukan keputusan.
Tantangan tersebut justru menjadikan proses pembelajaran semakin menarik. Peserta tidak hanya dituntut untuk melakukan perhitungan, tetapi juga harus berpikir kritis dalam menentukan data yang dapat dipercaya, memilih ukuran statistik yang tepat, serta menyusun argumentasi berdasarkan hasil analisis. Diskusi antarpeserta berlangsung aktif ketika setiap kelompok mencoba membandingkan berbagai alternatif dan mencari solusi yang paling sesuai.
Setelah kurang lebih satu jam melakukan diskusi dan mengerjakan studi kasus, setiap kelompok diminta untuk menyusun hasil pekerjaannya. Hasil diskusi kemudian ditempelkan di bagian depan ruangan agar dapat dilihat oleh seluruh peserta. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengamati berbagai pendekatan yang digunakan oleh kelompok lain dalam menyelesaikan persoalan yang sama.
Masing-masing kelompok memiliki cara berpikir dan pertimbangan yang beragam. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian permasalahan nyata dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, selama keputusan yang dihasilkan didukung oleh data, proses analisis, dan argumentasi yang jelas. Selanjutnya, perwakilan dari dua kelompok dipilih untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka di hadapan seluruh peserta. Dalam sesi presentasi, perwakilan kelompok menjelaskan proses yang dilakukan, mulai dari penentuan kriteria, pencarian data, penggunaan pendekatan matematika dan statistik, hingga penetapan area yang dianggap paling sesuai bagi keluarga pendatang baru di Surabaya.
Sesi presentasi menjadi kesempatan penting bagi peserta untuk saling belajar. Mahasiswa S1, S2, dan S3 dapat melihat dan membandingkan berbagai strategi yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan. Diskusi tersebut juga memperlihatkan pentingnya kemampuan komunikasi dalam pembelajaran STEM, terutama dalam menjelaskan alasan dan bukti yang mendukung suatu solusi. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai penerapan pendekatan STEM dalam konteks pemecahan masalah. STEM tidak hanya dipahami sebagai penggabungan beberapa bidang ilmu, tetapi sebagai suatu pendekatan yang mendorong peserta untuk menghubungkan konsep, menggunakan data, berpikir kritis, berkolaborasi, serta merancang solusi terhadap permasalahan yang ditemukan dalam kehidupan nyata.
Bagi mahasiswa dari jenjang S1, kegiatan ini memberikan pengalaman awal dalam memahami konsep dan karakteristik Pendidikan STEM. Sementara itu, bagi mahasiswa S2 dan S3, workshop menjadi ruang untuk memperluas perspektif akademik mengenai penerapan STEM, baik dalam pembelajaran, penelitian, maupun pengembangan inovasi pendidikan.
Workshop ini juga menjadi awal dari proses pembelajaran Pendidikan STEM yang akan terus dikembangkan. Khusus bagi mahasiswa yang menempuh mata kuliah Pendidikan STEM, pembelajaran selanjutnya akan dilanjutkan bersama dosen pengampu untuk menggali lebih dalam berbagai konsep, prinsip, model pembelajaran, serta aplikasi STEM dalam pendidikan.
Melalui Workshop Pendidikan STEM ini, Program Studi Pendidikan Matematika Unesa berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang terbuka, kolaboratif, dan melibatkan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan. Kegiatan yang mempertemukan mahasiswa S1, S2, dan S3 ini diharapkan dapat memperkuat budaya akademik serta membuka ruang diskusi dan pertukaran gagasan dalam pengembangan Pendidikan STEM.
Dengan pengalaman yang diperoleh selama workshop, peserta diharapkan semakin memahami pentingnya pembelajaran yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu dengan permasalahan nyata. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi akademik, penelitian, maupun praktik pendidikan, serta berkontribusi dalam pengembangan pembelajaran STEM yang inovatif di masa depan.




