Identifikasi Miskonsepsi Siswa dan Scaffolding: Guru SD Kabupaten Mojokerto Antusias Ikuti Pelatihan
- kategori Berita umum
63 Views
berita terkait
- Laporan Hasil Analisis Kepuasan Dosen di Program Studi S2 Pendidikan Matematika FMIPA Unesa 2025
- Identifikasi Miskonsepsi Siswa dan Scaffolding: Guru SD Kabupaten Mojokerto Antusias Ikuti Pelatihan
- Pengabdian Kepada Masyarakat Program Pascasarjana Pendidikan Matematika Unesa di Sekolah Indonesia Davao, Filipina
- Matematika Unesa Mengabdi Perkuat Pemahaman Siswa di Sekolah Indonesia Bangkok
- Tim Dosen Matematika UNESA Laksanakan Kegiatan Pengabdian di Sekolah Indonesia Bangkok
Mojokerto (27/07) - Tim dosen dari Prodi Pendidikan Matematika Unesa yang terdiri atas Dr. Ali Shodikin, M.Pd., Prof. Rooselyna Ekawati, Ph.D., Dr. Susanah, M.Pd., Rudianto Artiono, M.Si., serta Budi Priyo Prawoto, M.Si. melaksanakan kegiatan pendampingan intensif bagi guru-guru sekolah dasar di Kabupaten Mojokerto. Fokus utama kegiatan ini adalah membantu guru mengidentifikasi berbagai bentuk miskonsepsi yang sering muncul pada siswa selama pembelajaran matematika, sekaligus memberikan pemahaman mengenai cara-cara melakukan scaffolding yang efektif untuk meluruskan kesalahan konsep tersebut.
Pelatihan yang diikuti oleh 25 guru kelas IV, V, dan VI dari beberapa sekolah di wilayah Kabupaten Mojokerto ini berlangsung di SDN Banjaragung 1, Kota Mojokerto, pada Sabtu (26/07/2025). Sejak awal, suasana kegiatan terasa sangat hidup. Para peserta tidak hanya hadir sebagai penerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi dan berbagi pengalaman. Pada sesi refleksi awal, banyak guru menyampaikan bahwa mereka sering menjumpai pemahaman keliru yang berulang pada siswa, namun belum selalu mengetahui akar permasalahannya. Ungkapan seperti “oh, ternyata begitu” terdengar berulang kali ketika para guru mulai memahami bagaimana miskonsepsi tersebut terbentuk dan bagaimana cara efektif menanganinya.
Dosen pemateri memaparkan berbagai contoh miskonsepsi yang umum terjadi, seperti kesalahan dalam memahami konsep pembagian dengan nol—misalnya anggapan bahwa 2 : 0 = 0—yang menunjukkan bahwa siswa belum mampu mengaitkan konsep pembagian dengan makna operasionalnya. Selain itu, miskonsepsi mengenai operasi pada bilangan bulat juga diangkat, terutama dalam membedakan ekspresi 8 – (–4) dengan 8 + 4, yang sering dianggap serupa tanpa pemahaman konsep negatif dan lawan bilangan.
Pelatihan tidak hanya menekankan identifikasi kesalahan konsep, tetapi juga memperkenalkan pendekatan scaffolding yang dapat diterapkan guru di kelas. Melalui contoh-contoh konkret, guru diajak untuk melihat bahwa penanganan miskonsepsi tidak semata-mata dilakukan dengan memberi tahu jawaban yang benar, tetapi melalui tahapan pertanyaan penuntun, penggunaan model visual, dan kegiatan eksplorasi yang membuat siswa menemukan konsep secara mandiri namun tetap terarah.
Respons peserta pelatihan sangat positif. Banyak guru mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan wawasan baru mengenai bagaimana membaca pemahaman siswa secara lebih mendalam, serta bagaimana menyesuaikan strategi pembelajaran agar lebih efektif. Salah satu sesi yang paling menarik minat peserta adalah pembahasan terkait Tes Kemampuan Akademik (TKA), yang rencananya mulai diterapkan tahun depan untuk jenjang sekolah dasar. Topik ini menjadi perhatian karena terkait langsung dengan kesiapan guru dalam memfasilitasi kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa.
Para guru menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dan berharap dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain menambah kompetensi profesional, pelatihan juga menjadi ruang bertukar pengalaman, berdiskusi tentang praktik baik, serta membahas solusi atas permasalahan nyata yang mereka hadapi dalam pembelajaran matematika di kelas. Mereka berharap pendampingan semacam ini menjadi bagian rutin dari program peningkatan kapasitas guru di Kabupaten Mojokerto.




